
Anggota Komisi VII DPR RI, Novita Hardini, secara aktif mendorong pemerintah daerah untuk memanfaatkan momentum Piala Dunia 2026 sebagai instrumen penggerak ekonomi lokal.
Ia menegaskan bahwa perhelatan sepak bola terbesar di dunia yang berlangsung di Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada dapat menjadi peluang strategis bagi pertumbuhan ekonomi daerah apabila dikelola secara kreatif dan terencana.
Nobar Piala Dunia Sebagai Motor Penggerak UMKM
Novita Hardini menilai kegiatan nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 bukan sekadar hiburan, melainkan peluang besar yang bisa menggerakkan ekonomi rakyat serta mempererat kebersamaan di berbagai daerah.
Menurutnya, event itu dapat menjadi instrumen penggerak ekonomi daerah apabila dikelola kreatif melalui program nobar, festival, dan aktivitas pendukung lainnya yang melibatkan pelaku UMKM.
Dampak ekonomi bagi daerah lebih banyak dirasakan melalui peningkatan aktivitas konsumsi masyarakat di sektor hiburan, kuliner, dan usaha mikro kecil menengah.
Proyeksi Nilai Ekonomi Mencapai Rp 4 Triliun
Pengamat dari Paramadina Public Policy Institute memperkirakan perputaran ekonomi dari momentum Piala Dunia 2026 di Indonesia berkisar antara Rp 3 triliun hingga Rp 4 triliun.
TVRI telah mengantongi hak siar Piala Dunia 2026 dan mengajak seluruh pemerintah daerah untuk memanfaatkan momen itu guna mendongkrak ekonomi lokal melalui kerja sama solid antara lembaga penyiaran dan pemda.
Beberapa daerah seperti Sumatera Barat dan Bangka Belitung sudah menyiapkan program nobar masif untuk mendukung program pemerintah dalam mendorong perekonomian rakyat, khususnya pelaku UMKM.
Pentingnya Promosi Siar UntukĀ Akses Publik
Komisi VII DPR RI juga meminta lembaga penyiaran publik memperluas promosi siaran Piala Dunia agar gaung event itu tidak minim di masyarakat.
Novita Hardini soroti minimnya gaung Piala Dunia 2026 di TVRI dan mengingatkan momentum nasional jangan sampai lewat tanpa dampak ekonomi nyata.